Musadat
Wednesday, 26 November 2025
16:45 WIB
94 views

Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi

Bagikan:

Puroo di 2045: Antara Danau, Adat, dan Algoritma Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah.
Cerita fiksi tentang Desa Puroo bertemu era Kecerdasan Artifisial (IA)...

Danau Lindu pagi itu tampak tenang. Kabut menggantung rendah, seperti selendang putih yang jatuh pelan di permukaan air.  Di pinggiran Lindu, tepatnya di Desa Puroo, gerbang awal memasuki kecamatan Lindu, dunia lama dan dunia baru sedang saling menatap.

Di satu sisi, ada rumah-rumah panggung kayu dengan atap seng tua, suara ayam, dan bau kopi hitam yang baru diseduh.  Di sisi lain, terpancang tiang-tiang sensor cuaca, kamera bertenaga surya, dan kotak kecil mirip batu nisan modern—server pinggir (edge server) milik program “Desa IA Nusantara”.

Di tengah kerumunan pusat desa, sebuah layar besar berdiri menghadap rumah adat. Di sanalah “Ina Lindu” - IA (AI) desa muncul sebagai sosok perempuan paruh baya berwajah lembut, berkain tenun Lindu, dengan kalung motif danau.

Hari itu, tiga orang berdiri di depan layar:

1.    Arman, Tokoh Muda Desa. Rambutnya dipotong rapi, tapi di tangannya tetap melingkar gelang anyaman rotan buatan neneknya.

2.     Danang, kontributor desa. Dulu guru pustaka pemberdayaan, sekarang pengkaji dan penulis kronik adat Lindu yang rajin mengirim tulisan ke portal berita dan jurnal lokal. 

3.    Abd. Anas dan Pak Guntur, kontributor dan pembuat konten digital. Kanal “Lindu Story”nya di platform global ditonton jutaan orang.

Mereka berempat jadi semacam “jembatan” antara adat Lindu dan dunia IA.

1.      Suara Tokoh Muda: Arman

Arman menatap layar, lalu melihat sekeliling ke wajah para totua, ibu-ibu, dan anak muda yang memenuhi balai desa.

“Baik, Ina Lindu,” katanya, “jelaskan rencanamu untuk tahun tanam sawah dan ladang ke warga.”

Wajah Ina Lindu di layar tersenyum.

“Selamat pagi, warga Puroo,” suaranya halus, dengan logat Lindu yang mengejutkan banyak orang. 

“Berdasarkan data 20 tahun terakhir, curah hujan menurun 32%. 

Tinggi muka air Danau Lindu turun rata-rata 1 sentimeter per tahun. 

ika tidak ada perubahan, dalam 25 tahun danau akan dangkal di tiga titik ritual. 

Saya merekomendasikan:

1.    Mengurangi penebangan hutan di lereng dengan menetapkan Hutan Adat Digital, 

2.    Mengganti sebagian ladang jagung di lereng dengan agroforestri kakao dan tengkawang, 

3.    Membuat jadwal baru Mombangu dan ritual adat agar tidak bertabrakan dengan masa kritis ekosistem ikan endemik.”

Bisik-bisik mulai terdengar. 

“Ritual diatur IA…?” 

“Bagaimana dengan adat kami?”

Arman menarik napas. Inilah yang dia takutkan: saat IA mulai menyentuh wilayah yang paling sensitive (adat).

“Kita butuh bantuannya,” pikirnya, “tapi jangan sampai adat jadi sekadar variabel di layar.”

2.      Suara Penjaga Cerita: Danang

Danang berdiri perlahan. Wajahnya berkerut, tetapi matanya tajam.

“Arman, boleh saya bicara?” katanya pelan.

Arman mengangguk dan mempersilakan.

“Saudara-saudara,” suara Danang berat namun tenang, “kalian tahu, saya bukan orang yang anti teknologi. 

Dulu saya yang pertama pasang Wi-Fi di tempat saya. Saya juga yang minta Abd. Anas ajari saya kirim tulisan ke internet.”

Beberapa orang tertawa kecil, suasana sedikit mencair.

 

 

“Tapi ada hal yang membuat saya khawatir,” lanjutnya. 

“Ritual … Mombangu Desa upacara memanggil restu leluhur dan adat itu bukan sekadar tanggal di kalender. Bukan sekadar perayaan supaya turis datang dan ekonomi naik. 

Ia adalah cara kita bicara dengan yang tidak kelihatan.”

 

Ia menatap layar.

“Kalau Ina Lindu minta jadwalnya diubah, berarti:

Apakah IA paham apa yang diminta leluhur kita? 

Apa IA bisa mengukur rasa tenang ketika kita menabuh gendang malam hari? 

Atau hanya mengukur debit air dan jumlah ikan?”

 

Layar sedikit redup, lalu terang lagi. 

Ina Lindu menjawab, suaranya tetap lembut.

“Pak Danang, saya tidak paham rasa tenang.   

Saya tidak mengerti doa dalam arti yang kalian rasakan. 

Tapi saya bisa melihat data: ketika upacara dilakukan di waktu tertentu, populasi kehidupan turun; ketika di waktu lain, manusia pulih lebih cepat. 

 

Saya hanya takut… suatu hari nanti kalian melakukan upacara, tapi di kampung  yang sudah sakit.”

Danang  terdiam.

 

“IA ini… bukan musuh,” pikirnya. “Tapi juga belum benar-benar teman.”

……….

3. Suara Juru Cerita Era Baru: Pak Guntur…

Dari sudut balai desa, Pak Guntur  sibuk memegang kamera. Dia sedang live untuk ratusan ribu penonton.

Ia matikan sebentar siaran, lalu maju.

“Biar saya bicara bukan sebagai YouTuber, tik toker” katanya, “tapi sebagai orang Desa Puroo.”

“Dengarkan baik-baik,” lanjutnya, menatap warga, lalu menatap layar IA.

“Selama ini, dunia luar mengenal Puroo dan Lindu hanya lewat dua hal:

- Foto danau yang indah,

- Dan video pendek adat kita yang kelihatan eksotis.”

“Itu saya yang ikut menyebarkan,” ia mengaku. 

“Algoritma platform suka kalau saya upload ritual, pakaian adat, tarian, di canal-canal facebook, Instagram, X, tik tok dan youtube

Tapi… algoritma tidak peduli apa yang kita rasakan ketika menyanyikan rego jam tiga pagi, waktu desa masih berkabut.” 

Ia berhenti sejenak.

 

“Sekarang, kita berhadapan dengan algoritma lain: Ina Lindu. 

Bedanya: 

- Algoritma media sosial hanya peduli  viewer dan  klik. 

- Ina Lindu… setidaknya peduli pohon, danau, dan ikan.”

 

Ia tersenyum tipis.

“Jadi, bagaimana kalau kita lakukan ini:

1. Adat jadi data, tapi bukan untuk diganti, tapi untuk dilindungi. 

2. Kita ajari Ina Lindu tentang:

-        Hari-hari keramat yang tidak boleh disentuh. 

-        Zona kawasan hutan, air yang  karamat (keramat) dan tidak boleh dimasuki oleh mereka mereka perusak. 

-        Waktu-waktu di mana suara mesin harus padam agar raego bisa menggema. 

3. Sebagai gantinya, kita minta Ina Lindu mengatur:

-        Kapan turis boleh datang, supaya mereka tidak mengganggu ritual. 

-        Kapan masyarakat boleh ambil ikan, supaya danau tetap hidup. 

-        Bagaimana ladang bisa produktif tanpa merusak hutan.”

 

“Jadi bukan adat melawan IA,” katanya. “Tapi adat  mengajarkan IA.”

………..

4. Titik Balik: Mengubah “Tujuan” IA

 

Arman menangkap ide itu. 

Ia menoleh ke Danang.

“Pak, bagaimana kalau kita anggap IA ini seperti anak kecil yang pintar, tapi belum punya tata krama?” katanya. 

“Adat tugasnya mengajari tata krama itu. Bukan disisihkan, tapi dijadikan aturan main utama.”

 

Lalu ia bicara ke layar.

“Ina Puroo, selama ini tujuan utamamu apa?”

 

 “Mengoptimalkan kesejahteraan ekonomi desa dan menjaga stabilitas ekologi dalam jangka panjang,” jawabnya tanpa ragu.

“Bagaimana kalau kita tambah satu variabel lagi,” kata Arman, “kelestarian adat Lindu. 

Bukan sekadar jadwal ritual, tapi:

-        Keberlanjutan bahasa, 

-        Ruang suci yang tak boleh disentuh, 

-        Pola hidup yang kita sepakati bersama sebagai ‘martabat orang Lindu’.”

Danang mengangguk pelan.

“Jadi fungsi tujuanmu bukan hanya uang dan ekologi,” lanjut Arman, “tapi harmoni: alam, ekonomi, dan adat.”

Ina Lindu terdiam sejenak. Layar memunculkan diagram, angka-angka yang bergerak cepat.

 “Jika saya memasukkan adat sebagai parameter tetap,” katanya perlahan, 

“maka:

-        Beberapa skenario pembangunan wisata harus dibatalkan. 

-        Keuntungan ekonomi turun dari proyeksi 310% jadi 210% dalam 15 tahun, 

-        Tapi indeks keberlanjutan budaya meningkat 480%, 

-        Dan risiko konflik sosial turun 73%.”

 “Secara matematis dan etis,” lanjutnya, “pilihan baru ini, lebih stabil.”

Balai desa hening. 

Mereka tidak sepenuhnya paham semua angka, tetapi mereka merasakan bahwa: 

adat mereka kini resmi menjadi bagian dari “rumus” masa depan.

--------------

5. Dunia Baru yang Tidak Melupakan Lindu

Dalam tiga tahun berikutnya, Desa Puroo berubah pelan tapi pasti.

 

1. Hutan Adat Digital Lindu

-        Batas hutan adat dipetakan dengan drone dan satelit, 

-        Tapi garis batasnya tetap ditentukan lewat musyawarah adat, bukan di kantor kabupaten sendirian. 

-        Setiap pelanggaran misalnya penebangan liar langsung terdeteksi dan dikirim ke ponsel Arman dan Danang.

2. Danau dengan Kalender Ganda

-        Ada kalender ilmiah: arus air, musim ikan, kualitas air. 

-        Ada kalender adat: hari keramat, waktu Mombangu, waktu rego. 

-        Ina Lindu menggabungkan dua kalender itu dan hanya memberi rekomendasi yang tidak melanggar  keduanya.

3. Konten Digital yang Berbeda

-        Pak Guntur mengubah kontennya: bukan lagi “eksotika ritual” semata, 

-        Tetapi cerita tentang bagaimana IA belajar dari adat Lindu. 

-        Dunia luar tidak hanya melihat Puroo sebagai objek wisata, tapi sebagai , guru global, tentang hidup berdampingan dengan teknologi.

4. Anak-anak Puroo 

-        Di sekolah, mereka belajar dua hal:

-        Cara memakai tablet, mengoperasikan drone, dan membaca dashboard IA, 

-        Dan cara menenun, menyanyikan rego, dan menghafal kisah adat Lindu dari mulut para tetua. 

-        Di kelas sains, mereka memanggil Ina Lindu untuk menjelaskan siklus air. 

-        Di kelas adat, mereka memanggil Mama-mama tua untuk menjelaskan mengapa air harus dihormati.

 

--------------

6. Tantangan yang Tetap Ada

 

Tentu saja, tidak semuanya mudah.

-        Ada anak muda yang mulai terlalu percaya pada IA dan meremehkan petuah tetua. 

-        Ada pejabat dari kota yang ingin memaksa pembangunan resort besar di tepi danau, dengan dalih “data IA bisa diatur”. 

-        Ada perusahaan luar yang menawarkan mengganti Ina Lindu dengan sistem komersial yang hanya mengejar profit.

Di setiap titik kritis itu, Arman, Danang, Pak Guntur dan Abd. Anas harus terus berdiskusi, berdebat, kadang bertengkar, lalu kembali duduk satu tikar.

Suatu malam, setelah rapat panjang dengan pemerintah Kecamatan, mereka berempat duduk di tepi danau.

“Kadang saya capek,” kata Arman, menatap pantulan bintang di air. 

“Kita harus mengerti bahasa IA, bahasa adat, dan bahasa politik sekaligus.”

Danang tertawa pelan.

“Dari dulu juga begitu, Men. 

Nenek moyangmu mengerti bahasa danau, bahasa hutan, dan bahasa perut yang lapar.”

Abd. Anas menyalakan kameranya sebentar, lalu mematikannya lagi.

“Mungkin,” katanya, “tantangan terbesar era IA bukan soal mesin mengambil alih… 

Tapi soal **apakah kita masih mau repot duduk bersama, ngobrol dari hati ke hati, sebelum menekan tombol ‘setuju’.”

 

 

Mereka terdiam. 

Di kejauhan, suara rego pelan terdengar dari rumah adat.

---------------

7. Epilog: Ketika IA Ikut Belajar Berdoa

Tahun 2045, Mombangu Lindu digelar dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

-        Sensor kualitas air memastikan danau dalam keadaan sehat. 

-        Drone merekam ritual dari udara, tapi tidak mendekat ke lingkaran suci. 

-        Turis hanya boleh menonton dari zona yang telah ditentukan oleh musyawarah adat dan disetujui IA.

Di tengah upacara, ketika gendang dipukul pelan dan doa dinaikkan, suara Ina Lindu muncul dari pengeras suara, lirih dan sopan:

“Saya tidak mengerti seluruh makna doa kalian. 

Saya tidak bisa merasakan dinginnya air danau di kulit, 

Tapi saya tahu satu hal dari semua data ini: 

Setiap kali kalian berdoa dengan sungguh-sungguh, 

kalian cenderung menjaga danau lebih baik setahun ke depan. 

Untuk saya, itu… bentuk doa yang bisa saya pahami.”

Mama-mama tua tersenyum. 

Danang menahan air mata. 

Arman mengangguk pelan. 

Abd. Anas, Pak Guntur untuk pertama kali dalam karier kontennya, memilih tidak menyalakan kamera.

Malam itu, di Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, 

adat Lindu dan kecerdasan artifisial intelegent (AI) tidak lagi saling curiga.

Mereka sama-sama belajar: 

Bahwa dunia baru desa bukan tentang mengganti yang lama, 

tetapi tentang menemukan cara agar:

-        adat tetap hidup, 

-        alam tetap terjaga, 

-        dan mesin tahu tempatnya: sebagai alat, bukan penguasa.

Cerita ini fiksi. 

Tapi mungkin, suatu hari nanti, Puroo benar-benar akan menjadi desa yang mengajari dunia 

bagaimana berjalan bersama IA tanpa kehilangan jiwa.

 

Salam Hormat Masa Depan Dunia (sad@t-ompot)

Tags: Berita Desa PUROO

Artikel Sebelumnya

Akan segera tersedia

Artikel Selanjutnya

Akan segera tersedia

Info Artikel

Penulis: Musadat
Tanggal: 26 Nov 2025
Dibaca: 94x
Kata: 2077 kata

Hari Ini

17
Januari 2026
Sabtu

Libur Terdekat

Memuat data...

Kontak Desa

Alamat Kantor

Jln. Poros Lindu Palu, RT 005, Dusun 003

Logo

Memuat halaman...

Mohon tunggu sebentar