Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi
Puroo di 2045: Antara Danau, Adat, dan Algoritma
Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah.
Cerita fiksi tentang Desa Puroo bertemu era Kecerdasan Artifisial (IA)...
Danau Lindu
pagi itu tampak tenang. Kabut menggantung rendah, seperti selendang putih yang jatuh
pelan di permukaan air. Di pinggiran Lindu, tepatnya di Desa Puroo, gerbang awal memasuki kecamatan Lindu, dunia lama dan dunia baru sedang saling menatap.
Di satu
sisi, ada rumah-rumah panggung kayu dengan atap seng tua, suara ayam, dan bau
kopi hitam yang baru diseduh. Di sisi
lain, terpancang tiang-tiang sensor cuaca, kamera bertenaga surya, dan kotak
kecil mirip batu nisan modern—server pinggir (edge server) milik program “Desa
IA Nusantara”.
Di tengah kerumunan
pusat desa, sebuah layar besar berdiri menghadap rumah adat. Di sanalah “Ina
Lindu” - IA (AI) desa muncul sebagai sosok perempuan paruh baya berwajah
lembut, berkain tenun Lindu, dengan kalung motif danau.
Hari itu,
tiga orang berdiri di depan layar:
1.
Arman, Tokoh Muda Desa. Rambutnya dipotong rapi,
tapi di tangannya tetap melingkar gelang anyaman rotan buatan neneknya.
2.
Danang,
kontributor desa. Dulu guru pustaka pemberdayaan, sekarang pengkaji dan penulis
kronik adat Lindu yang rajin mengirim tulisan ke portal berita dan jurnal
lokal.
3.
Abd. Anas dan Pak Guntur, kontributor dan
pembuat konten digital. Kanal “Lindu Story”nya di platform global ditonton
jutaan orang.
Mereka berempat
jadi semacam “jembatan” antara adat Lindu dan dunia IA.
1. Suara
Tokoh Muda: Arman
Arman
menatap layar, lalu melihat sekeliling ke wajah para totua, ibu-ibu, dan anak
muda yang memenuhi balai desa.
“Baik, Ina
Lindu,” katanya, “jelaskan rencanamu untuk tahun tanam sawah dan ladang ke
warga.”
Wajah Ina
Lindu di layar tersenyum.
“Selamat
pagi, warga Puroo,” suaranya halus, dengan logat Lindu yang mengejutkan banyak
orang.
“Berdasarkan
data 20 tahun terakhir, curah hujan menurun 32%.
Tinggi muka
air Danau Lindu turun rata-rata 1 sentimeter per tahun.
ika tidak
ada perubahan, dalam 25 tahun danau akan dangkal di tiga titik ritual.
Saya
merekomendasikan:
1.
Mengurangi penebangan hutan di lereng dengan
menetapkan Hutan Adat Digital,
2.
Mengganti sebagian ladang jagung di lereng
dengan agroforestri kakao dan tengkawang,
3.
Membuat jadwal baru Mombangu dan ritual adat
agar tidak bertabrakan dengan masa kritis ekosistem ikan endemik.”
Bisik-bisik
mulai terdengar.
“Ritual
diatur IA…?”
“Bagaimana
dengan adat kami?”
Arman
menarik napas. Inilah yang dia takutkan: saat IA mulai menyentuh wilayah yang
paling sensitive (adat).
“Kita butuh
bantuannya,” pikirnya, “tapi jangan sampai adat jadi sekadar variabel di
layar.”
2. Suara
Penjaga Cerita: Danang
Danang berdiri
perlahan. Wajahnya berkerut, tetapi matanya tajam.
“Arman,
boleh saya bicara?” katanya pelan.
Arman
mengangguk dan mempersilakan.
“Saudara-saudara,”
suara Danang berat namun tenang, “kalian tahu, saya bukan orang yang anti
teknologi.
Dulu saya
yang pertama pasang Wi-Fi di tempat saya. Saya juga yang minta Abd. Anas ajari
saya kirim tulisan ke internet.”
Beberapa
orang tertawa kecil, suasana sedikit mencair.
“Tapi ada
hal yang membuat saya khawatir,” lanjutnya.
“Ritual … Mombangu
Desa upacara memanggil restu leluhur dan adat itu bukan sekadar tanggal di
kalender. Bukan sekadar perayaan supaya turis datang dan ekonomi naik.
Ia adalah
cara kita bicara dengan yang tidak kelihatan.”
Ia menatap
layar.
“Kalau Ina
Lindu minta jadwalnya diubah, berarti:
Apakah IA
paham apa yang diminta leluhur kita?
Apa IA bisa
mengukur rasa tenang ketika kita menabuh gendang malam hari?
Atau hanya
mengukur debit air dan jumlah ikan?”
Layar
sedikit redup, lalu terang lagi.
Ina Lindu
menjawab, suaranya tetap lembut.
“Pak Danang,
saya tidak paham rasa tenang.
Saya tidak
mengerti doa dalam arti yang kalian rasakan.
Tapi saya
bisa melihat data: ketika upacara dilakukan di waktu tertentu, populasi kehidupan
turun; ketika di waktu lain, manusia pulih lebih cepat.
Saya hanya
takut… suatu hari nanti kalian melakukan upacara, tapi di kampung yang sudah sakit.”
Danang terdiam.
“IA ini…
bukan musuh,” pikirnya. “Tapi juga belum benar-benar teman.”
……….
3. Suara
Juru Cerita Era Baru: Pak Guntur…
Dari sudut
balai desa, Pak Guntur sibuk memegang
kamera. Dia sedang live untuk ratusan ribu penonton.
Ia matikan
sebentar siaran, lalu maju.
“Biar saya
bicara bukan sebagai YouTuber, tik toker” katanya, “tapi sebagai orang Desa Puroo.”
“Dengarkan
baik-baik,” lanjutnya, menatap warga, lalu menatap layar IA.
“Selama ini,
dunia luar mengenal Puroo dan Lindu hanya lewat dua hal:
- Foto danau
yang indah,
- Dan video
pendek adat kita yang kelihatan eksotis.”
“Itu saya
yang ikut menyebarkan,” ia mengaku.
“Algoritma
platform suka kalau saya upload ritual, pakaian adat, tarian, di canal-canal
facebook, Instagram, X, tik tok dan youtube
Tapi…
algoritma tidak peduli apa yang kita rasakan ketika menyanyikan rego jam tiga
pagi, waktu desa masih berkabut.”
Ia berhenti
sejenak.
“Sekarang,
kita berhadapan dengan algoritma lain: Ina Lindu.
Bedanya:
- Algoritma
media sosial hanya peduli viewer
dan klik.
- Ina Lindu…
setidaknya peduli pohon, danau, dan ikan.”
Ia tersenyum
tipis.
“Jadi,
bagaimana kalau kita lakukan ini:
1. Adat jadi
data, tapi bukan untuk diganti, tapi untuk dilindungi.
2. Kita
ajari Ina Lindu tentang:
-
Hari-hari keramat yang tidak boleh
disentuh.
-
Zona kawasan hutan, air yang karamat (keramat) dan tidak boleh dimasuki oleh
mereka mereka perusak.
-
Waktu-waktu di mana suara mesin harus padam agar
raego bisa menggema.
3. Sebagai
gantinya, kita minta Ina Lindu mengatur:
-
Kapan turis boleh datang, supaya mereka tidak
mengganggu ritual.
-
Kapan masyarakat boleh ambil ikan, supaya danau
tetap hidup.
-
Bagaimana ladang bisa produktif tanpa merusak
hutan.”
“Jadi bukan
adat melawan IA,” katanya. “Tapi adat
mengajarkan IA.”
………..
4. Titik
Balik: Mengubah “Tujuan” IA
Arman
menangkap ide itu.
Ia menoleh
ke Danang.
“Pak,
bagaimana kalau kita anggap IA ini seperti anak kecil yang pintar, tapi belum
punya tata krama?” katanya.
“Adat
tugasnya mengajari tata krama itu. Bukan disisihkan, tapi dijadikan aturan main
utama.”
Lalu ia
bicara ke layar.
“Ina Puroo,
selama ini tujuan utamamu apa?”
“Mengoptimalkan kesejahteraan ekonomi desa dan
menjaga stabilitas ekologi dalam jangka panjang,” jawabnya tanpa ragu.
“Bagaimana
kalau kita tambah satu variabel lagi,” kata Arman, “kelestarian adat Lindu.
Bukan
sekadar jadwal ritual, tapi:
-
Keberlanjutan bahasa,
-
Ruang suci yang tak boleh disentuh,
-
Pola hidup yang kita sepakati bersama sebagai
‘martabat orang Lindu’.”
Danang mengangguk
pelan.
“Jadi fungsi
tujuanmu bukan hanya uang dan ekologi,” lanjut Arman, “tapi harmoni: alam,
ekonomi, dan adat.”
Ina Lindu
terdiam sejenak. Layar memunculkan diagram, angka-angka yang bergerak cepat.
“Jika saya memasukkan adat sebagai parameter
tetap,” katanya perlahan,
“maka:
-
Beberapa skenario pembangunan wisata harus
dibatalkan.
-
Keuntungan ekonomi turun dari proyeksi 310% jadi
210% dalam 15 tahun,
-
Tapi indeks keberlanjutan budaya meningkat
480%,
-
Dan risiko konflik sosial turun 73%.”
“Secara matematis dan etis,” lanjutnya,
“pilihan baru ini, lebih stabil.”
Balai desa
hening.
Mereka tidak
sepenuhnya paham semua angka, tetapi mereka merasakan bahwa:
adat mereka
kini resmi menjadi bagian dari “rumus” masa depan.
--------------
5. Dunia
Baru yang Tidak Melupakan Lindu
Dalam tiga
tahun berikutnya, Desa Puroo berubah pelan tapi pasti.
1. Hutan
Adat Digital Lindu
-
Batas hutan adat dipetakan dengan drone dan
satelit,
-
Tapi garis batasnya tetap ditentukan lewat
musyawarah adat, bukan di kantor kabupaten sendirian.
-
Setiap pelanggaran misalnya penebangan liar langsung
terdeteksi dan dikirim ke ponsel Arman dan Danang.
2. Danau
dengan Kalender Ganda
-
Ada kalender ilmiah: arus air, musim ikan,
kualitas air.
-
Ada kalender adat: hari keramat, waktu Mombangu,
waktu rego.
-
Ina Lindu menggabungkan dua kalender itu dan
hanya memberi rekomendasi yang tidak melanggar keduanya.
3. Konten Digital
yang Berbeda
-
Pak Guntur mengubah kontennya: bukan lagi
“eksotika ritual” semata,
-
Tetapi cerita tentang bagaimana IA belajar dari
adat Lindu.
-
Dunia luar tidak hanya melihat Puroo sebagai
objek wisata, tapi sebagai , guru global, tentang hidup berdampingan dengan
teknologi.
4. Anak-anak
Puroo
-
Di sekolah, mereka belajar dua hal:
-
Cara memakai tablet, mengoperasikan drone, dan
membaca dashboard IA,
-
Dan cara menenun, menyanyikan rego, dan
menghafal kisah adat Lindu dari mulut para tetua.
-
Di kelas sains, mereka memanggil Ina Lindu untuk
menjelaskan siklus air.
-
Di kelas adat, mereka memanggil Mama-mama tua
untuk menjelaskan mengapa air harus dihormati.
--------------
6. Tantangan
yang Tetap Ada
Tentu saja,
tidak semuanya mudah.
-
Ada anak muda yang mulai terlalu percaya pada IA
dan meremehkan petuah tetua.
-
Ada pejabat dari kota yang ingin memaksa
pembangunan resort besar di tepi danau, dengan dalih “data IA bisa
diatur”.
-
Ada perusahaan luar yang menawarkan mengganti
Ina Lindu dengan sistem komersial yang hanya mengejar profit.
Di setiap
titik kritis itu, Arman, Danang, Pak Guntur dan Abd. Anas harus terus
berdiskusi, berdebat, kadang bertengkar, lalu kembali duduk satu tikar.
Suatu malam,
setelah rapat panjang dengan pemerintah Kecamatan, mereka berempat duduk di
tepi danau.
“Kadang saya
capek,” kata Arman, menatap pantulan bintang di air.
“Kita harus
mengerti bahasa IA, bahasa adat, dan bahasa politik sekaligus.”
Danang tertawa
pelan.
“Dari dulu
juga begitu, Men.
Nenek
moyangmu mengerti bahasa danau, bahasa hutan, dan bahasa perut yang lapar.”
Abd. Anas
menyalakan kameranya sebentar, lalu mematikannya lagi.
“Mungkin,”
katanya, “tantangan terbesar era IA bukan soal mesin mengambil alih…
Tapi soal
**apakah kita masih mau repot duduk bersama, ngobrol dari hati ke hati, sebelum
menekan tombol ‘setuju’.”
Mereka
terdiam.
Di kejauhan,
suara rego pelan terdengar dari rumah adat.
---------------
7. Epilog:
Ketika IA Ikut Belajar Berdoa
Tahun 2045,
Mombangu Lindu digelar dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
-
Sensor kualitas air memastikan danau dalam
keadaan sehat.
-
Drone merekam ritual dari udara, tapi tidak
mendekat ke lingkaran suci.
-
Turis hanya boleh menonton dari zona yang telah
ditentukan oleh musyawarah adat dan disetujui IA.
Di tengah
upacara, ketika gendang dipukul pelan dan doa dinaikkan, suara Ina Lindu muncul
dari pengeras suara, lirih dan sopan:
“Saya tidak
mengerti seluruh makna doa kalian.
Saya tidak
bisa merasakan dinginnya air danau di kulit,
Tapi saya
tahu satu hal dari semua data ini:
Setiap kali
kalian berdoa dengan sungguh-sungguh,
kalian
cenderung menjaga danau lebih baik setahun ke depan.
Untuk saya,
itu… bentuk doa yang bisa saya pahami.”
Mama-mama
tua tersenyum.
Danang menahan
air mata.
Arman
mengangguk pelan.
Abd. Anas, Pak
Guntur untuk pertama kali dalam karier kontennya, memilih tidak menyalakan
kamera.
Malam itu,
di Desa Puroo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi,
adat Lindu
dan kecerdasan artifisial intelegent (AI) tidak lagi saling curiga.
Mereka
sama-sama belajar:
Bahwa dunia
baru desa bukan tentang mengganti yang lama,
tetapi
tentang menemukan cara agar:
-
adat tetap hidup,
-
alam tetap terjaga,
-
dan mesin tahu tempatnya: sebagai alat, bukan
penguasa.
Cerita ini
fiksi.
Tapi
mungkin, suatu hari nanti, Puroo benar-benar akan menjadi desa yang mengajari
dunia
bagaimana
berjalan bersama IA tanpa kehilangan jiwa.
Salam Hormat
Masa Depan Dunia (sad@t-ompot)