SEJARAH DESA PUROO
2025Pada pertengahan ada Tahun 1958, Bapak Tengi Tosuo dari Pegunungan Tanah Powatua , Kampung Winatu Kecamatan Kulawi berkunjung ke Tanah Lindu hendak menemui keluarga yang ada di Kampung Langko.
Alam yang sangat subur dan luas di sebelah selatan Kampung Langko, menjadi bagian yang sangat menarik untuk digarap menjadi areal kebun dan sawah, hal tersebut membuat Bpk. Tengi Tosuo yang Kala itu masih berusia Sekitar 25 Tahun untuk mencoba meminta kepada Tua Adat Kampung Langko dan Kepala Kampung Langko untuk tinggal dan menggarap areal tersebut.
Dengan Persetujuan Tua ā tua Adat dan Kepala Kampung Langko Yang kala itu dijabat oleh Bpk. Dade Nggei atau Tae Deni, Bpk. Tengi Tosuo Diizinkan mengolah Lahan Yang berada di bagian Selatan Kampung Langko.
Selama kurun waktu 1958 ā 1960, Bpk Tengi Tosuo harus bolak balik dari kampung Langko ke Kampung Winatu untuk menafkahi anak dan istrinya. Namun karena jarak yang cukup jauh dan waktu tempuh yang cukup lama maka pafda tahun 1961 Bapak Tengi Tosuo membawa istri dan anak nya serta beberapa saudara kandungnya dan saudara kandung istrinya untuk tinggal dan menetap di kampung Langko.
Pengikut Awal Tahun 1960 sampai dengan Tahun 1962 yang merintis Perkampungan Puroo adalah Moso Tosuo, Markus Kuāu, Wehi, Lantu, Rosa, Dongka Manca, Lot Leonard Lago, Pusu Tarese,Timpai Talegua, Alex Tobubu, Tundu Palugu, Ngale, Sanda dan beberapa orang lainnya yang tidak disebutkan namanya.
Tahun 1963, Dengan melihat perkembangan penduduk yang terus berdatangan menggarap lahan di sebelah selatan kampung Langko, maka tua ā tua adat dan kepala kampung Langko bertemu dengan pemerintah kecamatan kulawi supaya dilaksanakan pembagian wilayah tanpa konflik.
Pada Tanggal 16 Juni 1964 Pemerintah Kecamatan Kulawi secara resmi melaksanakan Pembagian Tanah Transmigrasi Lokal di wilayah Selatan Kampung Langko dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Wilayah Puroo didiami oleh penduduk dari kampung winatu
2. Wilayah Lempe dan Leloboe didiami oleh penduduk dari Kampung Tangkulowi dan Kampung Bolapapu
3. Wilayah Owo dan Wongkodono didiami oleh penduduk dari Kampung Lonca.
Adapun yang bertindak sebagai Tim Penunjukan Tanah Kecamatan Kulawi pada saat itu adalah Bapak M. KODU dan Kepala Kampung Langko adalah Bapak D. NGGEI
Tahun 1971, Wilayah Puroo disiapkan menjadi Kampung dengan cakupan wilayah Puroo, Lempe, Lempedongi, Lempunga, Leloboe dan Owo, sedangkan Wilayah Wongkodono tetap masih menjadi bagian dari Kampung Langko.
Tahun 1973, Wilayah Puroo resmi menjadi sebuah kampung dengan penunjukkan Bapak MARTEN LAGO sebagai Kepala Kampung oleh Pemerintah Kecamatan Kulawi.
B. ARTI NAMA DESA PUROO
Belum ada satu referensi tertulis yang bisa menjadi rujukan arti nama Desa Puroo.
Namun dari penuturan beberapa Tokoh masyarakat Desa Puroo dan Desa Langko bahwa, Kata ā PUROO ā adalah nama lokal dalam bahasa Lindu (Dialek Tado) untuk sejenis tanaman/rumput liar yang banyak dan tumbuh berkembang di seluruh wilayah Lindu, namun, rumput ini paling banyak ditemui dan sangat subur tumbuh di wilayah Desa Puroo Saat ini.
Tumbuhan Rumput Liar ini Mempunyai Khasiat bagi kesehatan dan dijadikan Obat Tradisional pada saat itu.
Dari narasi mengenai arti nama tersebut maka disimpulkan bahwa Desa PUROO memiliki Arti sebuah Desa yang Subur dan bisa mendatangkan Kesejahteraan Jika Bijak Mengelolah sumber Daya Alamnya.
Daftar Kepala Desa
| No | Nama | Jabatan | Periode |
|---|---|---|---|
|
1
|
M
Makasau
|
Kepala Desa | 1911 s/d 1914 |
Total Pemimpin
1
Kepala Desa Aktif
Tidak ada
Sejak Tahun
2024